uin

Menjalin Kerjasama untuk Mendorong Moderasi Agama: Pembentukan Konsorsium Riset dan Aksi Moderasi Agama (KRAMA)

Pada Kamis, 17 Desember 2021, Program Pascasarjana Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, dan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta mengukir langkah baru dalam upaya mendorong moderasi agama di Indonesia. Ketiga institusi ini menjalin kerja sama untuk membentuk Konsorsium Riset dan Aksi Moderasi Agama (KRAMA), sebuah inisiatif penting yang bertujuan memperkuat toleransi dan kerukunan antar umat beragama di tengah masyarakat Indonesia yang multikultural. Penandatanganan nota kerja sama (Memorandum of Agreement – MoA) terkait pembentukan KRAMA dilakukan secara hybrid dari Gedung Auditorium IAKN Ambon.

Penandatanganan MoA ini dilakukan oleh Direktur Pascasarjana IAKN Ambon, Ch D.W. Sahertian, Direktur Pascasarjana ISI Surakarta, Sunarmi, dan Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Prof. Abdul Mustaqim. Rangkaian acara tersebut dihadiri oleh para pejabat dan tokoh akademik, yang menyambut baik inisiatif kolaborasi antara ketiga perguruan tinggi ini. Penandatanganan MoA ini menindaklanjuti penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang sebelumnya dilakukan oleh IAKN Ambon dengan ISI Surakarta pada 23 November 2021, serta dengan UIN Sunan Kalijaga pada 4 Desember 2021.

Rektor IAKN Ambon, Agustina Ch Kakiay, dalam sambutannya menjelaskan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk memperkuat kegiatan moderasi beragama yang telah dimulai oleh ketiga perguruan tinggi tersebut. “Kami ingin menggabungkan potensi yang dimiliki oleh ISI Surakarta, UIN Sunan Kalijaga, dan IAKN Ambon untuk bersama-sama menggaungkan moderasi beragama dalam skala yang lebih besar, yang tentunya akan memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia,” ujar Agustina. Beliau juga menegaskan bahwa kerja sama ini meliputi berbagai bidang, termasuk riset moderasi beragama, pengembangan bidang reviewer jurnal ilmiah, dan pertukaran naskah artikel jurnal ilmiah. Semua ini diharapkan dapat mendukung terbentuknya KRAMA yang diharapkan dapat terlaksana pada tahun 2022.

Rektor ISI Surakarta, I Nyoman Sukerna, menyampaikan bahwa sebagai perguruan tinggi yang berfokus pada seni dan budaya, ISI Surakarta memiliki peran penting dalam menjadi mediator untuk aksi moderasi beragama. Selain itu, universitas dengan basis agama lainnya juga akan dilibatkan dalam kegiatan ini, salah satunya adalah Universitas Satya Wacana. “Kami ingin melibatkan berbagai pihak, tidak hanya dari perguruan tinggi, tetapi juga organisasi-organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, untuk bersama-sama merintis pembentukan KRAMA,” kata Nyoman. Inisiatif ini, menurutnya, bertujuan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa keberagaman keyakinan bukanlah penghalang untuk memperkuat persatuan.

Kesadaran ini sangat penting untuk mengingatkan masyarakat bahwa tidak ada kebenaran agama yang bisa digunakan untuk menjatuhkan agama lain. “Penting bagi generasi penerus bangsa untuk menyadari bahwa keyakinan masing-masing agama adalah untuk menguatkan keberagaman kita, bukan untuk merusak atau memecah belah,” tambah Nyoman.

Setelah penandatanganan MoA, Nyoman juga menegaskan bahwa kegiatan reviewer jurnal ilmiah antara IAKN Ambon, ISI Surakarta, dan UIN Sunan Kalijaga akan segera dilaksanakan. Langkah ini merupakan bagian dari proses pembangunan konsorsium yang diharapkan dapat berjalan pada tahun berikutnya. “Semakin banyak pihak yang terlibat dalam konsorsium ini, semakin besar manfaatnya bagi negara kita,” katanya.

Kerja sama ini menunjukkan komitmen ketiga institusi untuk memperkuat moderasi beragama di Indonesia melalui riset, dialog, dan pendidikan yang mendalam. Pembentukan KRAMA ini diharapkan dapat menjadi sebuah model kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi keagamaan dalam merespons tantangan kebhinekaan di Indonesia. Dengan melibatkan lebih banyak pihak, baik dari dunia pendidikan maupun masyarakat, konsorsium ini akan memberikan kontribusi besar dalam menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, toleran, dan harmonis.

Melalui kerja sama ini, diharapkan pula dapat membuka jalan bagi terciptanya program-program baru yang berfokus pada penguatan persatuan di tengah keberagaman agama, sehingga Indonesia sebagai negara dengan keberagaman agama dapat terus maju dengan tetap menjunjung tinggi toleransi dan perdamaian.

Facebook
Twitter
LinkedIn